Kronik Seputar Proklamasi


Written on January 11, 2008 – 7:46 am | by arifr

Oleh Alwi Shahab
Tanggal
6 Agustus 1945 pukul 08.15, bom atom pertama dijatuhkan di Hiroshima,
menyebabkan lebih 70 ribu orang dari kota yang berpenduduk 350 ribu jiwa tewas
seketika. Tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan ke Nagasaki.
Sepertiga kota itu hancur dan tidak kurang 75 ribu orang tewas. Kaisar Hirohito
menganggap Jepang sudah tidak mungkin lagi meneruskan peperangan dan kemudian
memaklumkan kekalahannya –menyerah tanpa syarat kepada sekutu.

Menyerahnya Jepang hampir tidak diketahui rakyat di Indonesia. Pada masa
pendudukan Jepang, rakyat buta terhadap berita-berita luar negeri. Semua radio
disegel. Mereka yang ketahuan mendengarkan siaran radio musuh sangat besar
risikonya: ditangkap Kempetai (polisi milter Jepang) dan dituduh mata-mata
musuh. Tuduhan yang bisa membawa kematian orang bersangkutan.

Mengingat banyak generasi sekarang yang tidak tahu kehidupan saat itu, baiklah
kita kutip catatan dari seorang pimpinan Barisan Pelopor (Korps Pionir) tentang
situasi akhir 1944. ”Setiap hari tampak hilir mudik
mayat-mayat berjalan (tinggal kulit pembungkus tulang). Tubuh mayit berjalan itu
penuh kutu di bajunya yang compang-camping. Baju yang terbuat dari bahan karung
goni, tali rami, atau karet. Mayit-mayit manusia itu ada di mana-mana, di lubang
perlindungan, di kuburan Cina, juga di tempat-tempat pembuangan sampah. Tergolek
lemah tanpa daya
.”

Ketika Jepang bertekuk lutut, yang mendengar kekalahan itu antara lain Sutan
Sjahrir. Ia dikenal sebagai tokoh anti-Jepang yang bekerja di bawah tanah dan
selalu mendengarkan siaran radio gelap. Pemuda Minang bertubuh kecil ini
kemudian menyebarkan berita kekalahan Jepang itu kepada para pemuda. Para pemuda
pun mendesak Bung Karno agar segera memproklamasikan kemerdekaan, bahkan
kemudian menculiknya bersama Bung Hatta dan Ibu Fatmawati ke Rengasdengklok,
kota kecamatan di Karawang, Jawa Barat.

Bung Karno rupanya tidak pernah melupakan ‘penghinaan’ Sjahrir ini. Dalam
biografinya seperti dituturkan pada Cindy Adams, Bung Karno mengatakan, ”Sjahrir-lah
orang yang menyala-nyalakan api para pemuda. Dia tertawa mengejekku dengan
diam-diam dan tidak pernah di hadapanku. Soekarno itu gila… Soekarno
kejepang-jepangan… Soekarno pengecut….

AM Hanafi, tokoh Angkatan ‘45 dan mantan dubes RI di Kuba, dalam buku Menteng 31
menulis, ”Tanggal 14 Agustus 1945 pukul 15.00 beberapa
pemuda radikal berkumpul di sebuah pekarangan yang banyak pohon pisangnya, tidak
jauh dari lapangan terbang Kemayoran. Mereka adalah Chaerul Saleh, Asmara Hadi,
AM Hanafi, Sudiro, dan SK Trimurti. Kami menantikan kedatangan Bung Karno dan
Bung Hatta dari Saigon. Kami pikir keduanya diiming-imingi Jepang dengan janji
kemerdekaan kelak di kemudian hari. Janji yang kami anggap menghina bangsa
Indonesia. Kami para pemuda tidak mau kemerdekaan hadiah
.”

Ketika Bung Karno dan Bung Hatta hendak masuk mobilnya, Chaerul Saleh
menghampiri mereka, dan berkata, ”Proklamirkan
kemerdekaan sekarang juga
.” Bung Karno yang tidak senang didesak
mengatakan, ”Kita tidak bisa bicara soal itu di sini.
Lihat itu, Kempetai mengawasi kita
.” Lalu ia masuk ke mobil di mana
Hatta sudah berada di dalamnya.

Jakarta kala itu sangat tegang. Golongan tua termasuk Bung Karno dan Bung Hatta
berpendapat sebaiknya kemerdekaan dicapai tanpa pertumpahan darah. Ini dapat
dilakukan melalui kerjasama dengan pihak Jepang. Sebaliknya kelompok pemuda
sudah tidak sabar lagi. Kemerdekaan harus segera diproklamasikan tanpa bantuan
dan melibatkan bangsa asing mana pun.

Pada 15 Agustus 1945 pukul 20.00, di salah ruangan Lembaga Bakteriologi, di
Pegangsaan Timur 17 (sekarang Fakultas Kesehatan Masyarakat UI), para pemuda dan
mahasiswa mengadakan pertemuan di bawah pimpinan Chaerul Saleh. Hasilnya, pukul
23.00 mereka mengutus Wikana dan Darwis mendatangi Bung Karno dan mendesak agar
esok hari (16/8) memproklamasikan kemerdekaan. Bung Karno menolak. Alasannya ia
dan Bung Hatta tidak ingin meninggalkan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(PPKI). Apalagi PPKI esoknya akan rapat di Jakarta.

Mendengar penolakan itu, Wikana mengancam, ”Kalau Bung
Karno tidak mau mengumumkan proklamasi, esok akan terjadi pertumpahan darah di
Jakarta
.” Bung Karno pun naik pitam, ”Ini
batang leherku. Potonglah leherku malam ini juga
.” Wikana terkejut
melihat kemarahan Bung Karno itu.

Ancaman
para pemuda rupanya bukan omong kosong. Pada 16 Agustus 1945 pukul 04.00,
setelah sahur, mereka menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.
Di sini sekali lagi para pemuda di bawah pimpinan Sukarni gagal memaksa keduanya
untuk memproklamasikan kemerdekaan.

‘Perdebatan’
kelompok muda dan tua terjadi kembali pada menit-menit menjelang proklamasi.
Meski proklamasi diputuskan akan dibacakan pukul 10.00 di kediaman Bung Karno,
para pemuda tetap gelisah. Mereka khawatir tentara Jepang akan menggagalkannya.
Mereka mendesak Bung Karno segera membacakannya tanpa menunggu Bung Hatta.

Saya tidak akan membacakan teks proklamasi kalau Bung
Hatta tidak ada. Jika Mas Muwardi tidak mau menunggu, silakan baca sendiri
,”
kata Bung Karno dengan lantang. Tak lama kemudian terdengar teriakan, ”Bung
Hatta datang… Bung Hatta datang….
” Tepat pukul 10.00 tanggal 17
Agustus 1945, kemerdekaan RI pun diproklamasikan. (RioL) dari :swaramuslim.net